Ketua GPSM Kampar Prihatin Video Wisatawan Berbikini di Danau Rusa PLTA Koto Panjang
Redaksi - Kampar
Senin, 09 Feb 2026 14:41 WIB
KAMPAR (SN) — Ketua Gugus Depan Pemuda Serambi Mekkah (GPSM) Kabupaten Kampar, Ustaz Masnur Abdurrahman, S.Pd., menyampaikan keprihatinan mendalam atas viralnya video wisatawan yang mengenakan bikini di kawasan objek wisata Danau Rusa PLTA Koto Panjang.
Masnur menilai peristiwa tersebut telah mencederai nilai-nilai adat dan agama yang selama ini dijunjung tinggi oleh masyarakat Kampar. Menurutnya, kejadian semacam itu belum pernah terjadi dalam sejarah sosial dan budaya daerah tersebut.
“Kampar memiliki norma sosial dan nilai religius yang kuat melalui prinsip Tigo Tungku Sajorangan, yaitu agama, adat, dan pemerintahan. Ketiga unsur ini harus berjalan seimbang dan dijaga bersama,” ujar Masnur, Senin (9/2/2026).
Ia menegaskan bahwa pengembangan sektor pariwisata tidak boleh mengorbankan tatanan moral dan akhlak masyarakat setempat. Menurutnya, kemajuan pariwisata dapat dilakukan dengan berbagai cara tanpa melanggar norma kehidupan masyarakat.
“Mungkin terlihat mendatangkan keuntungan ekonomi, tetapi yang muncul justru keresahan dan tanda tanya di tengah masyarakat,” katanya.
Masnur juga menyayangkan lemahnya pengawasan dari pihak pengelola maupun instansi terkait yang dinilai membiarkan kejadian tersebut terjadi. Ia dengan tegas menolak segala bentuk pornografi dan pornoaksi, termasuk yang dilakukan dengan dalih peningkatan pendapatan daerah.
Sebagai langkah ke depan, ia mendorong pemerintah daerah untuk segera mengambil kebijakan tegas, antara lain dengan menerbitkan aturan dan edaran resmi terkait etika berpakaian dan berperilaku di kawasan wisata. Selain itu, diperlukan pengawasan ketat oleh petugas yang tidak hanya memahami kepariwisataan, tetapi juga nilai-nilai moral dan budaya masyarakat Kampar.
Masnur juga mengusulkan pengembangan konsep wisata berbasis adat dan religi, seperti memperkenalkan pakaian adat serta produk lokal sebagai identitas wisata daerah. Pemerintah diminta memberikan informasi yang jelas kepada wisatawan mengenai norma dan budaya setempat sejak tahap promosi.
“Kita tidak harus meniru konsep wisata daerah lain. Kampar memiliki jati diri sendiri, dan itu harus ditegaskan oleh pemerintah dalam memasarkan pariwisata,” tutupnya.(ilh)