Menolak Lupa, Situs Cagar Budaya Peninggalan Belanda di Bangkinang Perlu Perhatian Pemda

Redaksi - Kampar

BANGKINANG (SN) — Sejumlah situs cagar budaya peninggalan kolonial Belanda di Kota Bangkinang, Kabupaten Kampar, hingga kini masih berdiri dan dimanfaatkan masyarakat, namun belum mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah untuk pelestarian maupun pengembangan sebagai objek wisata sejarah .

Salah satu peninggalan bersejarah tersebut adalah bak penampungan air bersih yang berada di kawasan Pasar Bawah, Tuo Tobo. Situs ini terdiri dari tiga bak penampungan yang dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

Tokoh Masyarakat Yasir Tabano Mengatakan di kawasan ini juga terdapat berbagai situs sejarah lain yang hingga saat ini belum terawat secara maksimal. Warga menilai, peninggalan tersebut merupakan aset penting yang perlu dibudidayakan kembali agar tidak hilang ditelan waktu.

“Kami sebagai warga setempat ingin agar sejarah yang pernah ada di daerah ini dihidupkan kembali. Jangan sampai situs-situs bersejarah ini terbengkalai,” ujarnya, Sabtu (3/01/2026). 

Bak pertama berukuran 15 meter x 10 meter, sedangkan bak kedua berukuran 7 meter x 10 meter. Kedua bak tersebut sejak tahun 1945 hingga kini masih difungsikan oleh masyarakat RT/RW 01 Pasar Bawah Tuo Tobo untuk keperluan mandi dan mencuci.

Sementara itu, bak ketiga memiliki ukuran 5 meter x 5 meter dengan tinggi sekitar 3 meter. Bentuknya yang menyerupai bangunan Ka’bah menjadikan situs ini unik dan memiliki nilai arsitektur tersendiri. Lokasinya tidak jauh dari asrama Koramil Bangkinang, namun kondisinya kini memerlukan perhatian dan penataan agar tidak rusak dimakan usia.

Selain bak penampungan air, Bangkinang juga memiliki ruko-ruko tua yang dibangun pada tahun 1927. Bangunan tersebut pernah menjadi pusat keramaian dan aktivitas ekonomi Kota Bangkinang pada rentang waktu 1945 hingga 1985, sekaligus menjadi saksi perkembangan kota pasca kemerdekaan.

Tak hanya itu, terdapat pula bekas Kantor Kejaksaan serta penjara kolonial Belanda yang hingga kini masih berdiri. Bangunan-bangunan tersebut memiliki nilai sejarah tinggi karena berkaitan langsung dengan sistem pemerintahan dan penegakan hukum pada masa kolonial.

Yasir Tabano juga menyinggung rencana pengembangan kawasan yang pernah diwacanakan oleh pimpinan daerah sebelumnya, namun hingga kini belum terealisasi. Harapan besar kini ditujukan kepada Bupati Kampar saat ini, Ahmad Yuzar, yang diketahui lahir dan besar di Bangkinang, agar menjadikan penataan kota dan pengembangan kawasan bersejarah sebagai prioritas hingga akhir masa jabatannya.

Menurut yasir, Bangkinang sebagai ibu kota Kabupaten Kampar dinilai belum mencerminkan wajah kota kabupaten yang representatif. Penataan kota, khususnya di kawasan bersejarah dan cagar alam, dinilai perlu dilakukan secara serius agar Bangkinang tampil lebih indah dan memiliki daya tarik wisata.

Sebagai gagasan, warga mengusulkan pembangunan kawasan wisata terpadu, termasuk wahana kereta kabel seperti yang terdapat di Singapura atau Sentosa Island, serta pembangunan hotel di sekitar kawasan tersebut. Hal ini diyakini dapat menjadi daya tarik baru bagi wisatawan.

“Memang harus dipancing dulu dengan anggaran daerah (APBD). Kalau sudah dibenahi, baru investor akan tertarik masuk. Tidak mungkin investor datang kalau kondisinya belum siap,” ungkapnya.

Selain dukungan dari pemerintah daerah, warga juga berharap pemerintah pusat melalui alokasi APBN dapat ikut mendukung pengembangan kawasan bersejarah dan pariwisata di Bangkinang. Dengan kolaborasi antara pemerintah daerah, pusat, dan pihak swasta, warga optimistis pengembangan kawasan tersebut dapat terwujud.

“Harapan kami, Pemerintah Daerah Kabupaten Kampar dapat memberikan perhatian serius terhadap situs-situs tersebut, baik melalui pendataan resmi sebagai cagar budaya, upaya pelestarian, hingga pengembangan sebagai objek wisata sejarah dan edukasi" tutupnya

Dengan pengelolaan yang tepat, peninggalan kolonial Belanda di Bangkinang dinilai mampu menjadi daya tarik wisata sekaligus sarana pembelajaran sejarah bagi generasi muda, agar jejak perjalanan kota dan bangsa tidak hilang ditelan zaman.(ilh)