Viral Turis Asing Berbikini di Danau Rusa, Disparbud Kampar Akui Kecolongan Pengawasan
Redaksi - Kampar
Senin, 09 Feb 2026 18:53 WIB
BANGKINANG (SN) — Video viral yang memperlihatkan seorang wisatawan asing mengenakan bikini di objek wisata Danau Rusa PLTA Koto Panjang, Kecamatan XIII Koto Kampar, mendapat tanggapan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kampar.
Kepala Disparbud Kampar, Afdal, menjelaskan bahwa kejadian tersebut bersifat insidental dan baru pertama kali terjadi. Menurutnya, peristiwa itu terjadi saat jumlah petugas pengawas di lokasi terbatas.
“Pada saat kejadian, petugas yang berjaga hanya dua hingga tiga orang. Sebagian staf sedang dialihkan untuk kegiatan gotong royong pembersihan di lokasi lain, sehingga kedatangan tamu tersebut tidak terpantau,” ujar Afdal.
Ia menegaskan bahwa kejadian tersebut merupakan kecolongan dalam pengawasan dan bukan sesuatu yang disengaja oleh pengelola.
“Kejadiannya sudah terjadi dan tentu ini tidak kita harapkan,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, Disparbud Kampar akan menginstruksikan petugas di lapangan agar lebih aktif memberikan imbauan kepada para pengunjung terkait norma dan etika yang berlaku di kawasan wisata, baik kepada wisatawan asing maupun wisatawan lokal.
“Bukan hanya wisatawan asing, pengunjung lokal yang melakukan aktivitas camping di kawasan itu juga harus diingatkan apabila terdapat hal-hal yang melanggar norma,” jelasnya.
Afdal menegaskan bahwa peristiwa tersebut tidak mengurangi potensi wisata Danau Rusa. Bahkan, viralnya kawasan itu justru menunjukkan adanya ketertarikan wisatawan asing yang dapat menjadi peluang bagi daerah.
“Ini sebenarnya potensi. Wisatawan asing bisa memberikan dampak ekonomi yang lebih besar dibandingkan wisatawan lokal. Tinggal bagaimana pengelolaannya dilakukan dengan baik,” ungkapnya.
Meski demikian, ia mengingatkan agar pengembangan sektor pariwisata tetap memperhatikan adat dan budaya lokal dengan pendekatan yang bijak serta tidak emosional.
“Kita sepakat ekonomi tidak boleh melanggar adat. Namun, cara mengingatkan wisatawan juga tidak bisa dilakukan secara ekstrem, karena latar belakang budaya dan pola pikir mereka berbeda dengan kita,” tuturnya.
Menurut Afdal, pendekatan yang digunakan harus bersifat universal dengan menekankan pada etika dan aturan yang dapat diterima oleh semua pihak.
“Jangan sampai potensi wisata ini hilang hanya karena emosi sesaat. Semua ini harus dikelola dengan hati-hati,” tegasnya.(ilh)