Admiral Nilai Tenun Akar Misharti Relevan untuk Penguatan Pendidikan dan Karakter Anak

Redaksi - Kampar

KAMPAR (SN) — Sekretaris Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Kampar, Admiral, menilai buku Tenun Akar karya Dr. Hj. Misharti dapat menjadi bahan refleksi penting bagi guru dan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Buku tersebut mengajak pembaca memahami bahwa keberhasilan anak tidak semata-mata diukur dari nilai, peringkat, maupun kemenangan, tetapi juga dari proses belajar dan pembentukan karakter.

Menurut Admiral, harapan agar anak meraih keberhasilan harus diimbangi dengan kesediaan orang dewasa memahami kemampuan, usaha, serta kesulitan yang dihadapi anak dalam proses pertumbuhannya.

“Prestasi patut dihargai. Namun, keinginan melihat anak berhasil harus tetap memberi ruang bagi mereka untuk mencoba, mengalami kesulitan, dan memperbaiki kesalahan. Guru dan orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendampingi proses tersebut,” ujarnya.

Dr. Misharti, Wakil Bupati Kampar sekaligus Ketua PGRI Kabupaten Kampar, mengangkat persoalan tersebut dalam bab Piala di Pundak Anak. Dalam bagian ini, kebanggaan terhadap pencapaian anak dibahas secara mendalam, termasuk potensi bergesernya tujuan pendidikan menjadi tuntutan untuk menjaga harga diri orang dewasa.

Anak bisa merasa terbebani ketika kemenangan dianggap sebagai bukti keberhasilan keluarga, sementara kegagalan justru disambut dengan kekecewaan yang membuat mereka merasa kurang dihargai. Melalui pembahasan tersebut, buku ini mengingatkan orang tua agar dukungan yang diberikan tetap berorientasi pada pertumbuhan dan perkembangan anak.

Admiral menilai refleksi tersebut sangat relevan dengan dunia pendidikan, khususnya di lingkungan sekolah. Menurutnya, penghargaan terhadap hasil belajar harus diiringi perhatian terhadap perkembangan anak yang tidak selalu terlihat melalui angka, peringkat, maupun penghargaan.

“Ada anak yang mulai berani bertanya setelah sekian lama memilih diam. Ada yang akhirnya memahami pelajaran setelah berkali-kali mencoba. Ada pula yang belajar mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Kemajuan seperti ini juga harus mendapat perhatian dalam dunia pendidikan,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun hubungan yang baik antara keluarga dan sekolah. Guru dan orang tua memiliki sudut pandang berbeda dalam melihat perkembangan anak. Karena itu, komunikasi antara keduanya diperlukan untuk memahami penyebab kesulitan belajar sebelum seorang anak dinilai kurang bersungguh-sungguh.

Persoalan pendampingan anak dibahas lebih lanjut dalam bab Mendampingi tanpa Mengambil Alih. Dr. Misharti menguraikan pentingnya memberikan bantuan tanpa merampas kesempatan anak untuk berpikir, menyampaikan pendapat, serta belajar bertanggung jawab atas pilihan yang diambilnya.

Salah satu contoh yang diangkat berkaitan dengan pengerjaan tugas sekolah. Orang tua dapat membantu anak menemukan materi yang belum dipahami, memberikan contoh, atau menghubungkannya dengan guru. Namun, anak tetap harus diberi kesempatan untuk melanjutkan proses berpikir dan menyelesaikan tugasnya sendiri.

“Ketika anak kesulitan mengerjakan tugas, kita perlu mengetahui bagian mana yang belum dipahaminya. Jika seluruh jawaban langsung diberikan, tugas mungkin selesai, tetapi belum tentu anak benar-benar belajar. Bantuan seharusnya membuat kemampuan anak berkembang,” ungkap Admiral.

Meski demikian, pendampingan dan latihan kemandirian tetap harus disesuaikan dengan kemampuan serta kondisi anak. Dalam buku tersebut, Dr. Misharti juga menegaskan bahwa orang dewasa harus hadir memberikan perlindungan ketika anak menghadapi ancaman, kekerasan, maupun perundungan berat.

Admiral berpandangan bahwa perhatian terhadap proses belajar dan perlindungan anak merupakan dua tanggung jawab yang harus berjalan beriringan, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah. Anak perlu mendapatkan kesempatan menghadapi tantangan sesuai kemampuannya, sekaligus memperoleh kepastian bahwa orang dewasa akan hadir ketika keselamatan dan keamanannya terancam.

Menurutnya, salah satu kekuatan buku Tenun Akar terletak pada kemampuan Dr. Misharti mengangkat persoalan sederhana yang sering terjadi dalam kehidupan keluarga menjadi bahan refleksi mendalam tentang pendidikan, pengasuhan, dan tanggung jawab orang dewasa.

“Buku ini dapat menjadi bahan percakapan bagi guru dan orang tua untuk mengevaluasi kembali cara mendampingi anak. Harapannya, anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri, berani belajar dari kesalahan, dan tetap merasa dihargai meskipun hasil yang dicapai belum sesuai harapan. Dari proses seperti inilah pendidikan turut membentuk karakter manusia,” tuturnya.