Bukan Sekadar Buku, Tenun Akar Misharti Kupas Tantangan dan Masa Depan Pemberdayaan Perempuan
Redaksi - Pekanbaru
Sabtu, 07 Nov 2026 18:47 WIB
PEKANBARU (SN) — Buku Tenun Akar karya Dr. Misharti mendapat perhatian dari Ketua Umum Pusat Data dan Informasi Perempuan Riau (Pusdatin Puanri) sekaligus anggota DPRD Provinsi Riau, Septina Primawati. Ia menilai buku tersebut mengangkat isu mendasar dalam pemberdayaan perempuan, khususnya terkait akses pendidikan, penguasaan pengetahuan, serta keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan.
Menurut Septina, perempuan tidak cukup hanya diberikan ruang untuk berkembang, tetapi juga harus memiliki akses terhadap pengetahuan dan kesempatan untuk menentukan arah kehidupannya sendiri, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
“Perempuan perlu memiliki pengetahuan dan kesempatan untuk ikut menentukan keputusan yang menyangkut hidupnya. Suaranya perlu didengar dalam keluarga maupun masyarakat. Pesan ini mendapat tempat yang kuat dalam buku ini,” ujar Septina, Sabtu (7/11/2026).
Ia menjelaskan, melalui buku bertema keluarga, perempuan, dan kepemimpinan tersebut, Misharti menguraikan bagaimana pengetahuan menjadi bekal penting bagi perempuan dalam memahami berbagai keputusan dan tanggung jawab yang harus dijalani.
Tak hanya itu, buku Tenun Akar juga menyoroti berbagai tantangan yang kerap dihadapi perempuan dalam mengembangkan potensi diri, mulai dari keterbatasan waktu, biaya pendidikan, hingga beban pekerjaan rumah tangga yang sering kali belum terbagi secara seimbang.
Bagi Septina, persoalan tersebut perlu menjadi perhatian organisasi perempuan maupun para pemangku kebijakan. Sebab, keterbatasan kesempatan perempuan untuk belajar dan meningkatkan kapasitas diri tidak terlepas dari kondisi sosial dan pembagian tanggung jawab dalam keluarga.
“Ketika perempuan ingin melanjutkan pendidikan atau meningkatkan kemampuan, dukungan perlu terlihat dalam pembagian tanggung jawab. Waktu dan tenaganya harus diperhitungkan. Buku ini menawarkan pembicaraan tentang pemberdayaan pada persoalan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Septina berharap pemikiran yang dituangkan Misharti dalam buku Tenun Akar dapat menjadi bahan diskusi yang lebih luas mengenai hubungan antara keluarga, pendidikan, kepemimpinan, dan kebijakan pemberdayaan perempuan.
Menurutnya, pemberdayaan perempuan harus diwujudkan melalui langkah nyata, terutama dengan membuka kesempatan belajar seluas-luasnya, memperluas akses informasi, serta memberikan ruang bagi perempuan untuk terlibat dalam setiap keputusan yang berpengaruh terhadap kehidupan mereka.
Dengan demikian, perempuan tidak hanya menjadi bagian dari perubahan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk ikut menentukan dan membangun masa depan keluarga serta masyarakat.(Ilh)