Buku Tenun Akar Jadi Refleksi Kebijakan Publik, Eko Sutrisno: Jangan Abaikan Suara Masyarakat Kecil
Redaksi - Kampar
Jumat, 06 Nov 2026 11:14 WIB
BANGKINANG (SN) — Anggota DPRD Kabupaten Kampar, Eko Sutrisno, mengapresiasi buku Tenun Akar karya Dr. Hj. Misharti. Menurutnya, buku tersebut tidak hanya mengangkat persoalan keluarga dan kehidupan sosial, tetapi juga menghadirkan refleksi penting tentang tanggung jawab pemerintah dan wakil rakyat dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Eko menilai, pemikiran yang dituangkan dalam buku Tenun Akar mengingatkan bahwa setiap kebijakan pembangunan harus berpijak pada kebutuhan nyata masyarakat, terutama kelompok yang selama ini memiliki keterbatasan dalam menyuarakan kepentingannya.
“Ada keluarga yang menghadapi kesulitan besar, tetapi tidak memiliki kekuatan untuk membuat kebutuhannya diperhatikan. Buku ini mengingatkan kita bahwa kondisi mereka juga harus menjadi pertimbangan dalam menentukan arah dan prioritas pembangunan,” ujar politisi NasDem Kampar tersebut, Jumat (6/11/2026).
Ia menyoroti pembahasan mengenai kelompok masyarakat yang memiliki daya tawar politik lemah, seperti anak-anak, lanjut usia, penyandang disabilitas, serta keluarga kurang mampu. Menurutnya, kebutuhan kelompok tersebut tidak boleh terabaikan hanya karena persoalan yang mereka hadapi jarang mendapat perhatian publik.
Selain itu, Eko menilai pembahasan tentang pengasuhan dan pembagian peran dalam keluarga memiliki kaitan erat dengan tanggung jawab pemerintah dalam menyediakan pelayanan dan perlindungan sosial.
“Keluarga memiliki tanggung jawab besar, mulai dari membesarkan anak, merawat anggota keluarga yang sakit, hingga menjaga keberlangsungan ekonomi rumah tangga. Karena itu, diperlukan dukungan pelayanan publik dan perlindungan sosial yang benar-benar bisa dirasakan masyarakat. Pemikiran ini sangat relevan bagi DPRD, terutama dalam pembahasan anggaran dan pengawasan pelaksanaannya,” katanya.
Lebih lanjut, Eko menyebut kekuatan buku Tenun Akar terletak pada kemampuannya mengangkat persoalan sederhana dalam kehidupan sehari-hari menjadi refleksi tentang keadilan, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial.
Ia berharap gagasan yang disampaikan Dr. Hj. Misharti melalui buku tersebut dapat menjadi bahan pemikiran bagi para pemangku kebijakan, khususnya dalam memastikan bahwa pembangunan tidak hanya berorientasi pada capaian fisik dan angka-angka anggaran.
“Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan harus dilihat dari sejauh mana kebijakan yang diambil mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Jangan sampai ada keluarga yang tertinggal hanya karena suara dan kebutuhan mereka kurang terdengar,” tutupnya.(Ilh)