Dari Pesisir Indragiri Hilir ke Puncak Akademik, Perjalanan Septa Diana Nabella Meraih Gelar Doktor

Redaksi - Batam

BATAM (SN) — Tidak semua orang memulai perjalanan hidup dengan kemudahan. Ada yang harus melangkah tanpa banyak tempat bersandar, menahan lelah dalam diam, dan menjaga impian seorang diri agar tidak direnggut keadaan.

Perjalanan penuh perjuangan itulah yang dilalui Assoc. Prof. Dr. Septa Diana Nabella, S.E., M.M. Perempuan kelahiran Desa Sungai Piring, Kecamatan Batang Tuaka, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, 17 September 1987, itu harus menghadapi kehilangan besar sejak usia belia.

Di kampung halamannya, Septa lebih akrab disapa Diana. Di balik namanya yang kini dikenal sebagai akademisi, tersimpan perjalanan panjang yang ditempa oleh kehilangan, keterbatasan, dan keteguhan hati.

Saat berusia 12 tahun, Diana kehilangan sosok ibu yang selama ini menjadi tempatnya mendapatkan kasih sayang. Kepergian sang ibu meninggalkan luka mendalam. Namun, ia memilih bangkit dan melanjutkan hidup di tengah segala keterbatasan.

Ujian kembali datang ketika Diana sedang menempuh pendidikan sarjana. Di tengah perjuangannya mengejar gelar S1, ia harus kehilangan sang ayah.

Kepergian kedua orang tua membuat Diana belajar berdiri di atas kakinya sendiri. Tidak ada lagi ayah dan ibu sebagai tempat mengadu ketika langkah terasa berat. Ia harus menyimpan kesedihan, menguatkan diri, dan terus berjalan demi menjaga impian yang telah dibangun.

Berangkat dari sebuah desa di pesisir Indragiri Hilir, Diana tidak membawa kemewahan. Bekalnya hanyalah keberanian, keteguhan hati, dan keyakinan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk mengubur cita-cita.

Sebelum melanjutkan pendidikan tinggi di Batam, Diana menempuh pendidikan di SMKN 1 Tembilahan dan tercatat sebagai alumni angkatan 2005. Dari bangku sekolah itulah langkahnya menuju dunia akademik mulai terbentuk hingga akhirnya mengantarkannya meraih gelar doktor.

Ketika sebagian orang dapat menempuh pendidikan dengan dukungan dan fasilitas yang memadai, Diana harus menempa dirinya sendiri. Ia belajar bertahan menghadapi berbagai kesulitan sembari menjaga keyakinan bahwa perjuangannya suatu hari akan menemukan tujuan.

Perjalanannya bukan sekadar tentang mengejar gelar. Ia juga harus belajar menghadapi kehidupan, melewati berbagai rintangan, dan menguatkan diri ketika keadaan terasa tidak berpihak.

Rasa lelah dan beragam tantangan berulang kali menghampiri. Namun, Diana memilih untuk terus berjalan. Ia percaya bahwa air mata dan pengorbanan tidak selamanya berakhir menjadi kesedihan.

Dari Sarjana hingga Doktor

Perjuangan panjang itu perlahan membuahkan hasil.

Setelah menyelesaikan pendidikan di SMKN 1 Tembilahan pada 2005, Diana melanjutkan kuliah dan berhasil meraih gelar Sarjana Manajemen dari STIE Ibnu Sina Batam pada 2010.

Dua tahun kemudian, ia meraih gelar Magister Manajemen dari Universitas Borobudur.

Pencapaian tersebut tidak membuatnya berhenti. Di tengah kesibukan bekerja dan mengabdi di dunia pendidikan, Diana kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang tertinggi.

Pada 2026, perempuan asal Desa Sungai Piring tersebut berhasil menyelesaikan pendidikan Doktor Ilmu Manajemen di Universitas Persada Indonesia Y.A.I.

Gelar doktor itu bukan sekadar tambahan di belakang namanya. Di dalamnya tersimpan perjalanan panjang seorang anak desa yang menolak menyerah kepada keadaan.

Gelar tersebut seakan menjadi jawaban atas lelah yang selama ini disembunyikan, kesulitan yang dilalui seorang diri, serta doa-doa yang terus dipanjatkan ketika tidak banyak orang mengetahui betapa berat perjuangannya.

Meski ayah dan ibunya tidak lagi berada di sisinya untuk menyaksikan pencapaian tersebut, semangat dan kenangan tentang keduanya tetap hidup dalam setiap langkah perjuangan Diana.

Dukungan Sang Suami

Dalam perjalanan hidup berikutnya, Diana tidak lagi berjalan sendirian. Kehadiran sang suami, Yandra Rivaldo, S.E., M.M., menjadi bagian penting dalam perjuangannya.

Dukungan, doa, dan pengertian sang suami turut memberikan kekuatan kepada Diana dalam menjalankan berbagai tanggung jawab sebagai istri, akademisi, pemimpin, peneliti, sekaligus mahasiswa program doktor.

Yandra tidak hanya hadir sebagai pasangan hidup, tetapi juga menjadi teman berbagi dalam menghadapi berbagai tantangan.

Di balik keberhasilan Diana menyelesaikan pendidikan doktor, terdapat sosok suami yang setia mendampingi dan menguatkannya hingga perjuangan panjang tersebut mencapai tujuan.

Meniti Karier dari Bawah

Dari Sungai Piring, Diana kemudian tumbuh menjadi akademisi senior. Kini, ia menyandang jabatan fungsional Lektor Kepala di Universitas Ibnu Sina dengan bidang keahlian manajemen keuangan.

Pencapaian itu tidak diraih dalam waktu singkat. Diana membangun karier secara perlahan, setapak demi setapak, dimulai dari posisi staf.

Pada 2007–2012, ia bekerja sebagai staf Bagian Lahan dan Dana Pembangunan Yayasan Pendidikan Ibnu Sina Batam. Pekerjaan tersebut menjadi bagian awal dari perjalanan panjangnya di lingkungan pendidikan.

Setelah melewati berbagai tahapan, Diana dipercaya menjadi Sekretaris Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) STIE Ibnu Sina Batam pada 2018–2019.

Sejak 2019 hingga sekarang, ia mengemban amanah sebagai Ketua Program Studi S1 Manajemen Universitas Ibnu Sina.

Karier Diana juga merambah dunia usaha. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Utama PT Area Wahana Mas pada 2013–2017.

Sejak 2020, ia juga memimpin CV Andara Wahana Karya, sebuah usaha yang dirintis bersama rekan sesama dosen yang kemudian menjadi pendamping hidupnya, Yandra Rivaldo.

Kebersamaan yang bermula dari perjuangan membangun usaha tersebut kemudian tumbuh menjadi ikatan kehidupan. Keduanya tidak hanya menjadi pasangan dalam rumah tangga, tetapi juga saling mendukung dalam meniti karier, pendidikan, dan pengabdian.

Aktif Meneliti dan Menulis

Di tengah kesibukannya memimpin dan mengajar, Diana tetap aktif menulis serta melakukan penelitian. Namanya tercatat dalam berbagai publikasi ilmiah nasional maupun internasional.

Penelitiannya membahas beragam persoalan, mulai dari kinerja perbankan, pasar modal, pengelolaan risiko kredit, investasi hijau, energi terbarukan, efisiensi penggunaan dana desa, hingga pengelolaan keuangan keluarga.

Prestasinya di dunia pendidikan juga semakin diakui. Diana dipercaya memeriksa dan menilai naskah hasil penelitian sebelum diterbitkan di sejumlah jurnal ilmiah internasional.

Di antaranya PLOS ONE, F1000Research, Journal of the Knowledge Economy, serta Cogent Business & Management.

Berbagai karya dan kegiatan penelitiannya juga tercatat dalam sistem pendataan ilmiah nasional maupun internasional seperti Scopus, Web of Science, ORCID, dan SINTA.

Melalui berbagai rekam jejak tersebut, hasil penelitian Diana dapat ditemukan, dibaca, dan dijadikan rujukan oleh mahasiswa, dosen, serta peneliti dari berbagai negara.

Catatan tersebut menunjukkan bahwa Diana tidak hanya aktif mengajar di ruang kuliah. Ia juga turut menyumbangkan pemikiran dan pengetahuannya bagi perkembangan dunia pendidikan dan penelitian.

Pengabdian di Dunia Organisasi

Di bidang organisasi, Diana dipercaya menjadi Koordinator Bidang Keuangan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Batam periode 2025–2028.

Ia juga menjabat Wakil Bendahara II Forum Manajemen Indonesia (FMI) Wilayah Kepulauan Riau periode 2025–2028 serta tercatat sebagai pengurus DPW Forum Komunikasi Dosen Indonesia (FKDI) Provinsi Kepulauan Riau periode 2023–2028.

Kini, nama Septa Diana Nabella berdiri bersama deretan gelar, jabatan, dan karya ilmiah.

Namun, di balik seluruh pencapaian tersebut, tersimpan kisah yang jauh lebih besar daripada sekadar barisan tulisan dalam daftar riwayat hidup.

Ada seorang anak perempuan yang kehilangan ibu ketika usianya baru 12 tahun. Ada seorang mahasiswi yang kembali kehilangan ayah ketika sedang berjuang menyelesaikan pendidikan.

Ada langkah yang terus dipaksakan berjalan meski lelah, serta kesendirian yang perlahan diubah menjadi kekuatan.

Ada pula seorang suami yang kemudian hadir untuk menemani, mendukung, dan menguatkan perjuangannya.

Perjalanan Diana membuktikan bahwa anak desa tidak boleh takut bermimpi. Tempat kelahiran bukanlah penentu sejauh mana seseorang dapat melangkah. Kehilangan dan keterbatasan juga tidak berhak memutus masa depan.

Dari Desa Sungai Piring, Kecamatan Batang Tuaka, menuju puncak akademik, Diana menunjukkan bahwa perjuangan yang dijalani dengan keteguhan dan kesabaran tidak akan berakhir sia-sia.

Ia berangkat dari desa dengan membawa impian. Meski harus kehilangan kedua orang tuanya dalam perjalanan, Diana tidak membiarkan kesedihan mengubur cita-citanya.

Bertahun-tahun kemudian, perjuangan tersebut mengantarkannya meraih gelar doktor.

Kisah hidup Septa Diana Nabella membawa pesan kepada generasi muda, khususnya anak-anak desa, agar tidak takut memiliki impian besar dan tidak menyerah hanya karena jalan yang dilalui terasa sunyi.

Sebab, seseorang memang tidak dapat memilih ujian yang datang dalam hidupnya. Namun, ia dapat memilih untuk tetap berdiri, terus melangkah, dan membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari masa depan.***