Di Hadapan Polisi Malaysia, Kapolda Riau Tegaskan Penanganan Karhutla Dilakukan dari Hulu hingga Hilir

Redaksi - Pekanbaru

JOHOR BAHRU (SN) — Kapolda Riau Irjen Pol. Herry Heryawan memaparkan perkembangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta upaya terpadu penanganannya di Provinsi Riau dalam pertemuan dengan jajaran kepolisian Johor dan Melaka, Malaysia, Selasa (8/9/2026).

Pemaparan tersebut disampaikan dalam rangkaian pertemuan pimpinan kepolisian Indonesia dan Malaysia yang berlangsung di Johor Bahru.

Di hadapan jajaran kepolisian Malaysia, Herry menjelaskan bahwa penanganan Karhutla di Riau dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai unsur. Sekitar 3.030 personel dikerahkan dan didukung berbagai sarana, mulai dari kendaraan operasional, peralatan pemadaman, alat berat, drone hingga perlengkapan keselamatan personel.

“Kami ingin menyampaikan kepada sahabat-sahabat kami di Malaysia bahwa Riau bekerja secara serius dan bergotong royong dalam menangani Karhutla. Lebih dari tiga ribu personel dari berbagai unsur bekerja di lapangan, didukung sarana darat, udara dan teknologi,” kata Herry.

Herry menegaskan, penanganan Karhutla tidak hanya dilakukan ketika api telah muncul. Jauh sebelum memasuki periode rawan, Polda Riau bersama pemerintah daerah, Kodam XIX/Tuanku Tambusai dan seluruh unsur terkait telah memperkuat langkah pencegahan serta mitigasi.

Langkah tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika cuaca dan ancaman El Niño yang berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran.

Upaya preventif dilakukan melalui sosialisasi larangan membuka lahan dengan cara membakar, pemasangan papan peringatan, patroli dan pemantauan wilayah rawan, pelibatan masyarakat, hingga pemanfaatan teknologi untuk mendeteksi serta memantau titik api.

Kesiapan infrastruktur juga diperkuat. Saat ini terdapat 19 sumur bor, 1.390 embung air, 1.988 sekat kanal dan 313 menara pantau yang dimanfaatkan untuk mendukung pencegahan maupun penanganan Karhutla.

“Kami bekerja dari hulu sampai hilir. Bukan hanya ketika api muncul kemudian kita memadamkan. Pencegahan, edukasi, deteksi dini dan kesiapan seluruh unsur dilakukan sejak awal, kemudian dilanjutkan dengan pemadaman, pendinginan hingga penegakan hukum ketika terjadi pelanggaran,” ujarnya.

Dalam paparannya, Herry menyebut sepanjang Januari hingga Agustus 2026, luas lahan yang terbakar di Provinsi Riau tercatat mencapai 17.525,80 hektare.

Selain melakukan pencegahan dan pemadaman, Polda Riau juga terus melakukan penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang diduga bertanggung jawab atas terjadinya Karhutla.

Hingga saat ini, Polda Riau dan jajaran menangani 45 perkara Karhutla dengan 49 tersangka. Luas lahan yang berkaitan dengan perkara tersebut mencapai sekitar 2.958,04 hektare.

“Penegakan hukum tetap kami lakukan secara tegas. Pesannya jelas, tidak boleh ada pihak yang mengambil keuntungan dengan cara merusak lingkungan dan membakar hutan maupun lahan,” tegas Herry.

Penanganan Karhutla juga diarahkan untuk melindungi masyarakat dan personel yang terdampak. Polda Riau bersama unsur terkait melakukan pembagian masker, pemeriksaan kesehatan, trauma healing, serta menyediakan posko kesehatan dan oksigen.

Dalam forum tersebut, Herry turut memaparkan kondisi arah angin dan sebaran asap di sejumlah wilayah Indonesia. Hal ini dinilai relevan mengingat kedekatan geografis Riau dengan Semenanjung Malaysia serta pentingnya pertukaran informasi mengenai perkembangan lingkungan di kawasan.

“Riau dan Malaysia berada dalam satu kawasan yang sangat dekat. Karena itu, persoalan lingkungan juga membutuhkan komunikasi dan keterbukaan. Kami menyampaikan kondisi yang ada, apa yang sudah kami kerjakan, sekaligus memastikan seluruh unsur di Riau terus bekerja untuk mengendalikan Karhutla,” kata Herry.

Pertemuan di Johor Bahru tersebut merupakan bagian dari Mesyuarat Dua Hala Keselamatan Sempadan yang berlangsung pada 7–9 September 2026.

Forum tersebut bertujuan memperkuat jaringan kerja sama dan komunikasi antara aparat keamanan Malaysia dan Indonesia, sekaligus menjaga keamanan serta stabilitas kawasan perbatasan.

Dalam kunjungan tersebut, Kapolda Riau didampingi Dirreskrimsus Kombes Ade Kuncoro Ridwan, Dirreskrimum Kombes Hasyim Risahondua, Dirpolairud Kombes Apri Fajar Hermanto, dan Dirresnarkoba Kombes Putu Yudha Prawira.

Sementara dari pihak Malaysia, pertemuan antara lain dihadiri Ketua Polis Johor CP Dato’ Ab Rahaman Bin Arsad, Ketua Polis Melaka DCP Datuk Wira Dzulkairi Bin Mukhtar, Timbalan Ketua Polis Johor DCP Hoo Chuan Huat, serta jajaran kepolisian Johor dan Melaka.

Konsul Jenderal Republik Indonesia di Johor Bahru, Sigit Suryantoro Widyanto, turut menghadiri pertemuan tersebut.***