SPPG Bangkinang Kota Minta Maaf dan Janji Evaluasi Pasca Dugaan Keracunan Makanan MBG di SDN 006 Langgini
Redaksi - Kampar
Selasa, 02 Sep 2025 18:39 WIB
BANGKINANG (SN) – Pengelola sekaligus penanggung jawab Sentra Pengelolaan Program Gizi (SPPG) Kecamatan Bangkinang Kota, Indra Noval, menyampaikan permohonan maaf atas insiden dugaan keracunan makanan yang dialami sejumlah siswa SDN 006 Langgini pada Program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Indra menegaskan bahwa peristiwa yang terjadi pada Kamis (28/8/2025) tersebut merupakan insiden pertama dan terakhir yang tidak diharapkan semua pihak.
“Tidak ada unsur kesengajaan dari tim dapur SPPG Bangkinang Kota. Namun, kami akui ada kelalaian teknis, terutama pada minggu pertama pelaksanaan program,” ujar Indra, Selasa (2/9/2025).
Evaluasi Menyeluruh dan Komitmen Perbaikan
Menurut Indra, proses pengawasan sebenarnya sudah melibatkan ahli gizi dan petugas SPPI, sementara tim dapur hanya menyiapkan tempat dan perlengkapan memasak. Namun, terdapat kendala pada keterlambatan pengiriman makanan serta penyesuaian jadwal antar-sekolah yang menjadi penyebab potensi penurunan kualitas makanan.
“Sejak kejadian Kamis lalu, kami langsung melakukan evaluasi, mulai dari pemilihan bahan baku, teknik memasak, hingga sistem distribusi, agar makanan tetap segar dan higienis sampai ke tangan siswa,” jelasnya.
Indra juga menegaskan kesiapannya membantu perawatan siswa yang terdampak. Selain itu, pihaknya sudah melakukan klarifikasi ke sekolah-sekolah terkait serta berencana mengunjungi keluarga siswa untuk menyampaikan permintaan maaf secara langsung.
“Program MBG ini sebenarnya berniat baik untuk mencukupi gizi anak-anak. Karena itu, kami tidak ingin insiden ini mengurangi kepercayaan masyarakat. Disiplin dapur, standar masak, dan distribusi akan kami perketat mulai sekarang,” tegasnya.
Klarifikasi Ahli Gizi: Proses Memasak Jadi Sorotan
Di sisi lain, Umul Khairiyah, ahli gizi Program Sekolah Pemberian Pangan Gratis (SPPG) Bangkinang Kota, juga memberikan klarifikasi terkait dugaan keracunan tersebut. Ia menjelaskan bahwa pada hari pertama pelaksanaan program, memang sempat terjadi penyesuaian jadwal memasak.
Namun, pada hari kejadian, proses memasak nasi goreng dilakukan lebih cepat dari jadwal yang sudah ditentukan.
“Saya sebenarnya sudah mengarahkan agar proses memasak dilakukan mulai pukul 03.00–04.00 dini hari. Namun, tim juru masak sudah memulai lebih cepat sebelum saya beri arahan. Hal ini memengaruhi kualitas makanan, terutama daya tahannya,” ungkap Umul.
Umul menambahkan, sebelum makanan didistribusikan, pihaknya selalu melakukan uji organoleptik, yakni pengecekan rasa, bau, dan tekstur makanan. Namun, ia mengakui bahwa proses pemasakan yang terlalu cepat dapat memengaruhi kualitas makanan dan mempercepat terjadinya perubahan bau atau rasa.
“Ke depan, saya akan memperketat pengawasan, mulai dari penerimaan bahan baku, proses persiapan, hingga distribusi. Para relawan juga akan diawasi lebih ketat agar tidak sembarangan dalam mengolah makanan,” tegasnya.
Langkah Lanjutan SPPG Bangkinang Kota berkomitmen memperketat standar keamanan pangan, termasuk:
- Penjadwalan ulang proses memasak sesuai rekomendasi ahli gizi.
- Pengawasan ketat terhadap bahan baku dan teknik memasak.
- Penambahan petugas khusus untuk memantau proses distribusi.
- Pemberian edukasi kepada relawan dan tim dapur soal standar higienitas.
Dengan evaluasi ini, pihak pengelola berharap Program MBG tetap berjalan optimal dan kembali mendapatkan kepercayaan masyarakat.(ilh)