Ma'aghak Suwek, Tradisi Religius Pulau Birandang yang Didorong Jadi Agenda Wisata Kampar
Redaksi - Kampar
Rabu, 28 Okt 2026 16:47 WIB
KAMPAR (SN) — Wakil Bupati Kampar, Dr. Hj. Misharti, mendorong tradisi Ma’aghak Suwek atau mengarak Al-Qur’an besar di Desa Pulau Birandang, Kecamatan Kampa, masuk dalam kalender pariwisata Kabupaten Kampar. Tradisi turun-temurun yang sarat nilai religius dan budaya tersebut dinilai memiliki potensi untuk menjadi daya tarik wisata sekaligus memperkuat identitas budaya daerah.
Dorongan itu disampaikan Misharti saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-49 Desa Pulau Birandang, Rabu (28/10/2026). Kegiatan tersebut mengusung tema “Merawat Kebersamaan, Melanjutkan Pembangunan” dan dirangkai dengan pelaksanaan tradisi Ma’aghak Suwek yang telah dilestarikan masyarakat setempat selama bertahun-tahun.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Kampar, tentu kami mengucapkan selamat ulang tahun ke-49 kepada Desa Pulau Birandang,” ujar Misharti.
Menurutnya, Ma’aghak Suwek bukan sekadar tradisi budaya, tetapi juga mencerminkan nilai keagamaan, kebersamaan, serta harapan masyarakat terhadap keberkahan dan keselamatan dalam menjalani kehidupan.
Melalui tradisi tersebut, masyarakat memanjatkan doa kepada Allah SWT agar senantiasa diberikan rahmat, perlindungan, dijauhkan dari berbagai marabahaya, serta dianugerahi kesuburan tanah dan hasil pertanian yang melimpah.
“Budaya Ma’aghak Suwek ini bagus karena kita mengingat bahwa yang kita minta hanya kepada Allah. Kita memohon keberkahan, rahmat, perlindungan dari Allah, dijauhkan dari marabahaya, sehingga tanah-tanah kita subur untuk ditanam,” katanya.
Misharti juga mengapresiasi pemerintah desa bersama masyarakat yang terus menjaga dan melaksanakan tradisi tersebut. Ia menyebut Ma’aghak Suwek telah dilaksanakan selama empat tahun berturut-turut dan berharap pelestariannya terus berlanjut hingga generasi mendatang.
Menurutnya, konsistensi masyarakat dalam mempertahankan tradisi lokal merupakan modal penting untuk menjaga warisan budaya agar tidak tergerus perkembangan zaman.
Ia menilai Ma’aghak Suwek memiliki semangat pelestarian yang sejalan dengan tradisi Pacu Sampan di Desa Buluh Cina, yang juga telah berlangsung selama empat tahun berturut-turut.
Misharti menyebut Kabupaten Kampar memiliki beragam kekayaan budaya yang berpotensi dikembangkan sebagai daya tarik pariwisata. Selain Pacu Sampan, terdapat pula tradisi Barolek Godang dan Lomang yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Kampar.
“Kabupaten Kampar sebenarnya memiliki kalender pariwisata. Mudah-mudahan kegiatan Ma’aghak Suwek ini juga bisa kita masukkan menjadi salah satu agendanya,” ungkapnya.
Ia berharap, apabila masuk dalam kalender pariwisata daerah, tradisi Ma’aghak Suwek dapat semakin dikenal luas, menarik perhatian wisatawan, serta mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat tanpa menghilangkan nilai-nilai religius dan budaya yang terkandung di dalamnya.
Peringatan HUT ke-49 Desa Pulau Birandang tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat dalam melanjutkan pembangunan desa, sekaligus menjaga tradisi yang diwariskan para pendahulu.
Kegiatan itu turut dihadiri Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau H. Tekad Parbatas Setia Dewa, anggota DPR RI Dr. H. Syahrul Aidi Ma’azat, Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Kampar Nur Ilahi Ali, Camat Kampa Tengku Fazli Redwan, Kepala Desa Pulau Birandang Thomas Renaldo, tokoh adat, serta masyarakat Desa Pulau Birandang.(Ilh)