Pacu Sampan Naga Buluh Cina Punya Sejarah Internasional, Hendri Domo Desak Dukungan Nyata Pemkab Kampar
Redaksi - Kampar
Jumat, 23 Okt 2026 21:20 WIB
SIAK HULU (SN) — Desa Buluh Cina, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, memiliki sejarah panjang dalam penyelenggaraan Pacu Sampan Naga. Tradisi yang pernah mengharumkan nama daerah melalui ajang Piala Presiden selama lima tahun berturut-turut pada era Presiden Megawati Soekarnoputri itu dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai wisata budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
Pacu Sampan Naga Buluh Cina bukan sekadar perlombaan tradisional. Ajang ini pernah menarik peserta dari sejumlah negara, seperti Brunei Darussalam, Thailand, Singapura, dan Malaysia. Kehadiran peserta mancanegara tersebut menjadi bukti bahwa tradisi masyarakat Kampar ini memiliki rekam jejak hingga tingkat internasional.
Kini, upaya mempertahankan dan mengembangkan tradisi tersebut terus dilakukan masyarakat Desa Buluh Cina bersama berbagai pemangku kepentingan.
Anggota DPRD Kabupaten Kampar Fraksi PKS dari Daerah Pemilihan (Dapil) V, Hendri Domo, menegaskan dukungannya terhadap pelaksanaan Pacu Sampan Naga. Terlebih, kegiatan tersebut digelar di kampung halamannya sendiri.
“Sebagai wakil rakyat dari Dapil V, tentu saya selalu mendukung kegiatan ini, apalagi dilaksanakan di kampung halaman sendiri. Hanya saja, saya terbiasa bekerja di balik layar. Tidak selalu terlihat, tetapi bagaimana kegiatan ini bisa tetap berjalan dan dirasakan manfaatnya,” ujarnya, Jumat (23/10/2026).
Hendri berharap, pada 2027 mendatang, Pacu Sampan Naga Buluh Cina dapat masuk dalam kalender wisata resmi Kabupaten Kampar. Dengan demikian, penyelenggaraan kegiatan tersebut memiliki kepastian dukungan dari pemerintah daerah dan tidak terus-menerus membebani panitia dalam mencari biaya.
Menurutnya, letak Desa Buluh Cina yang relatif dekat dengan Kota Pekanbaru menjadi keunggulan tersendiri untuk mengembangkan Pacu Sampan Naga sebagai wisata budaya. Potensi ini perlu dimaksimalkan agar mampu menarik kunjungan wisatawan dari berbagai daerah, sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.
Ia mengungkapkan, persoalan dukungan anggaran untuk penyelenggaraan Pacu Sampan Naga pernah disampaikannya dalam rapat Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kampar yang dihadiri Sekretaris Daerah beberapa bulan lalu.
Dalam rapat tersebut, Hendri menyoroti belum adanya alokasi anggaran pemerintah daerah yang secara khusus diperuntukkan bagi penyelenggaraan kegiatan tersebut. Selama ini, dukungan yang diberikan antara lain bersumber dari dana pribadi kepala daerah maupun wakil kepala daerah.
“Ini tentu perlu menjadi perhatian bersama. Kita ingin tradisi ini terus bertahan, tetapi panitia juga membutuhkan dukungan yang jelas agar tidak selalu kesulitan mencari biaya penyelenggaraan,” katanya.
Ia menilai, semangat gotong royong yang disampaikan Wakil Bupati Kampar dapat menjadi salah satu upaya untuk meringankan beban panitia. Namun, semangat kebersamaan tersebut perlu dibarengi dengan perhatian, perencanaan, dan dukungan pemerintah daerah agar penyelenggaraan Pacu Sampan Naga dapat berlangsung secara terarah dan berkelanjutan.
Bagi Hendri, Pacu Sampan Naga merupakan bagian dari kekayaan budaya masyarakat Kampar yang tidak boleh dibiarkan berjalan hanya dengan mengandalkan swadaya masyarakat. Pelestarian tradisi ini membutuhkan komitmen bersama, terutama dari pemerintah daerah, agar keberlangsungannya lebih terjamin.
“Pacu sampan ini adalah tradisi yang harus dipertahankan karena merupakan bagian dari budaya masyarakat Kampar. Ini menjadi perhatian kita bersama, terutama Pemerintah Kabupaten Kampar, agar tradisi ini terus hidup dan bisa dikembangkan menjadi daya tarik wisata,” tutupnya.(Ilh)