Pakar Dunia Berkumpul di Kampar, Universitas Pahlawan dan BRIN Bahas Perlindungan Biodiversitas Sumatra

Redaksi - Kampar

KAMPAR (SN) — Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai (UP) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan menggelar International Symposium 2026 pada 8–9 Oktober 2026.

Forum internasional tersebut akan mempertemukan akademisi, peneliti, pemerintah, lembaga konservasi serta mitra internasional untuk membahas upaya menjaga keanekaragaman hayati di tengah ancaman fragmentasi habitat di kawasan Sumatra.

Sejumlah tokoh dan pakar dijadwalkan hadir dalam kegiatan ini, di antaranya Prof. Dr. Arif Satria dari BRIN, Rektor Universitas Pahlawan Prof. Dr. Drs. Amir Luthfi, M.A., Menteri Lingkungan Hidup RI Moh. Jumhur Hidayat, serta Dr. Engin Koncagul dari UNESCO.

Selain itu, symposium juga menghadirkan pembicara dari sejumlah negara, seperti Australia, China, Malaysia, Belanda dan Brunei Darussalam.

Dari Australia hadir Dr. Robinson Alastair dan Dr. Kate Delaporte. Dari China, Dr. Charles Cannon. Sementara dari Malaysia hadir Pn. Nur Nisha Binti Moh Idrus. Belanda diwakili Dr. Roderick Bouman dan Theo Damen, sedangkan Brunei Darussalam menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Rahayu Sukmaria Binti Hj Sukri.

Rektor Universitas Pahlawan, Prof. Dr. Drs. Amir Luthfi, M.A., mengatakan symposium mengangkat tema “Bridging Fragmentation: The Role of Botanical Gardens and Campus Preservation Areas as Biodiversity Corridors Supporting TRHS.”

Menurut Amir, fragmentasi habitat yang disebabkan oleh aktivitas pertanian, pertambangan, permukiman hingga pembangunan infrastruktur menjadi salah satu tantangan serius bagi keberlangsungan biodiversitas.

“Fragmentasi habitat dapat mengganggu konektivitas ekologis. Karena itu, kita perlu memikirkan bagaimana kawasan hijau yang ada dapat saling terhubung,” ujar Prof. Amir, Sabtu (26/09/2026) 

Ia menjelaskan, kebun raya dan kawasan preservasi di lingkungan kampus memiliki potensi menjadi koridor biodiversitas atau ecological stepping stones yang dapat membantu menghubungkan habitat yang terfragmentasi.

Konsep tersebut juga akan dikembangkan melalui Kebun Raya Universitas Pahlawan, yang diarahkan sebagai ruang konservasi, pendidikan dan penelitian sekaligus living laboratory bagi mahasiswa, dosen, peneliti dan masyarakat.

BRIN Jadi Mitra Strategis

Dalam kegiatan tersebut, BRIN menjadi mitra strategis Universitas Pahlawan dalam memperkuat riset dan pengembangan kebun raya.

Prof. Amir menyebut Universitas Pahlawan sebelumnya mendapat penghargaan sebagai satu-satunya universitas swasta di Indonesia yang mengelola kebun raya.

“Kami ingin hasil symposium ini tidak berhenti pada diskusi, tetapi menjadi dasar kerja sama yang lebih konkret dalam bidang konservasi, penelitian dan pendidikan,” katanya.

UP juga menargetkan symposium menghasilkan deklarasi bersama serta membuka kemitraan internasional dengan perguruan tinggi, kebun raya, lembaga penelitian dan institusi konservasi.

Kerja sama tersebut dapat mencakup penelitian bersama, pertukaran peneliti, pengelolaan koleksi tanaman, seed exchange, konservasi biodiversitas hingga restorasi ekosistem.

Dukung Pelestarian TRHS

Meski Kebun Raya Universitas Pahlawan bukan bagian dari kawasan Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (TRHS), kampus ingin berkontribusi melalui konsep supporting landscape.

Menurut Prof. Amir, keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada kawasan yang dilindungi, tetapi juga kondisi lanskap di sekitarnya.

“Kami ingin mengembangkan Kebun Raya Universitas Pahlawan dan kawasan preservasi kampus sebagai supporting landscape yang melengkapi kawasan konservasi yang sudah ada,” ujarnya.

International Symposium 2026 diharapkan menjadi ruang pertukaran pengetahuan sekaligus mendorong lahirnya kerja sama dan langkah nyata dalam memperkuat konservasi biodiversitas.

“Kami ingin ada knowledge exchange, capacity building, strategic partnerships, dan tindak lanjut yang konkret,” pungkas Prof. Amir.(Ilh)