Abdul Latif Apresiasi International Symposium 2026, Dorong Kebun Raya Universitas Pahlawan Terus Dikembangkan

Redaksi - Kampar

KAMPAR (SN) — Pelaksanaan International Symposium 2026 di Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai (UP) mendapat apresiasi dari tokoh masyarakat sekaligus budayawan Kampar, Dr. H.C. Abdul Latif, MM Dt. Bagindo Hasyim.

Simposium yang mengangkat isu pengembangan kebun raya, pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati tersebut dinilai menjadi langkah positif dalam mendorong perhatian terhadap keberadaan Kebun Raya Universitas Pahlawan.

Abdul Latif mengatakan, kebun raya memiliki nilai strategis bagi Kabupaten Kampar, khususnya dalam menjaga habitat, melestarikan tumbuhan serta mempertahankan kekayaan keanekaragaman hayati yang dimiliki daerah.

Ia juga menyampaikan rasa bangga atas terselenggaranya kegiatan berskala internasional yang secara khusus mengangkat isu kebun raya dan konservasi lingkungan.

“Sebagai masyarakat Kampar, tentu kita merasa bangga dengan digelarnya simposium internasional ini. Kegiatan yang membahas secara khusus tentang kebun raya dan keanekaragaman hayati seperti ini masih jarang dilakukan di Riau,” ujar Abdul Latif, Kamis (8/10/2026).

Menurutnya, kolaborasi Universitas Pahlawan dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam kegiatan tersebut memberikan dampak positif yang lebih luas. Tidak hanya memperkenalkan potensi Kampar, tetapi juga membawa isu lingkungan dari daerah ke tingkat nasional hingga internasional.

“Ini bukan hanya menjadi kebanggaan bagi Kampar dan Universitas Pahlawan, tetapi juga bagi Riau. Apa yang dibahas menyangkut kepentingan yang lebih luas, baik secara nasional maupun internasional,” katanya.

Lebih lanjut, Abdul Latif berharap Kebun Raya Universitas Pahlawan dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menurutnya, fungsi kebun raya tidak sebatas sebagai tempat koleksi tanaman. Kawasan tersebut juga berpotensi menjadi pusat penelitian, pendidikan, pelatihan, kegiatan olahraga, kebudayaan serta ruang konservasi bagi berbagai tanaman, termasuk jenis-jenis yang mulai langka.

“Harapan kita, kebun raya ini terus dikembangkan sesuai dengan tujuan utamanya, terutama dalam menjaga dan melestarikan tanaman langka. Selain itu, kawasan ini juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat penelitian, edukasi, pelatihan, kegiatan budaya dan berbagai aktivitas positif lainnya,” ungkapnya.

Abdul Latif juga mengajak masyarakat Kampar untuk ikut mengambil peran dalam menjaga dan merawat keberadaan kebun raya tersebut.

Ia menilai keberadaan kebun raya di Kampar merupakan aset daerah yang patut disyukuri sekaligus dijaga bersama. Selama ini, kata dia, masyarakat lebih banyak mengenal kebun raya seperti Kebun Raya Bogor dan sejumlah kebun raya lainnya di Indonesia.

“Alhamdulillah, sekarang Kampar juga memiliki kebun raya. Ini merupakan aset yang harus kita jaga bersama. Masyarakat jangan hanya menjadi penonton, tetapi ikut merawat, mendukung dan memastikan keberlangsungannya,” pungkas Abdul Latif.(Ilh)