Kuniong Ancak dan Sikapau Kampa Dikembangkan, Kampar Bidik Tiga Kali Panen Setahun
Redaksi - Kampar
Selasa, 15 Sep 2026 19:32 WIB
KAMPAR (SN) — Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Kampar terus mendorong pengembangan varietas padi lokal sebagai upaya menjaga kelestarian benih khas daerah sekaligus meningkatkan produktivitas petani. Ke depan, varietas unggulan lokal tersebut ditargetkan dapat dikembangkan hingga mampu dipanen tiga kali dalam setahun.
Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Kampar, Nurilahi Ali, melalui Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Budi Hantana, mengatakan saat ini terdapat dua varietas padi lokal Kampar yang telah resmi dilepas oleh Kementerian Pertanian, yakni Kuniong Ancak dan Sikapau Kampa.
Selain dua varietas tersebut, pihaknya juga telah mengusulkan dua varietas padi lokal lainnya untuk mendapatkan pelepasan resmi dari Kementerian Pertanian pada tahun ini.
“Varietas yang sudah dilepas seperti Kuniong Ancak dan Sikapau Kampa kini sudah dikembangkan di beberapa wilayah, seperti Kecamatan Gunung Sahilan, Salo, Kuok, dan Kampar,” ujar Budi, Selasa (15/9/2026).
Menurutnya, saat ini penanaman padi tersebut telah memasuki musim tanam kedua (MT II) yang berlangsung pada periode Mei–Juni. Dengan demikian, tanaman diperkirakan mulai memasuki masa panen pada Oktober mendatang.
Budi menjelaskan, padi lokal Kampar memiliki keunggulan dari sisi kemampuan beradaptasi dengan lingkungan setempat serta cita rasa yang digemari masyarakat. Salah satunya varietas Kuniong Ancak yang dikenal memiliki tekstur nasi mengembang, lunak, namun tetap kenyal.
“Varietas Kuniong Ancak sangat cocok diolah menjadi lontong. Dari sisi rasa dan teksturnya, kualitasnya juga dinilai setara dengan beras Solok asal Sumatera Barat,” jelasnya.
Dari sisi produktivitas, varietas padi lokal Kampar tersebut mampu menghasilkan sekitar 5 hingga 6 ton gabah per hektare. Saat ini, Dinas Pertanian juga tengah melakukan penelitian untuk memperpendek umur panen.
Upaya tersebut dilakukan agar pola tanam yang saat ini ditargetkan dua kali dalam setahun dapat ditingkatkan menjadi tiga kali musim panen. Dengan demikian, produktivitas lahan sekaligus pendapatan petani diharapkan dapat meningkat.
Selain meningkatkan produksi, Dinas Pertanian Kampar juga memberikan perhatian terhadap aspek pelestarian benih agar varietas lokal tidak mengalami kepunahan. Salah satunya melalui program pelestarian benih inti di Balai Benih Induk (BBI) Kampar dengan memanfaatkan lahan seluas sekitar setengah hektare.
Benih berkualitas yang dihasilkan dari program tersebut nantinya akan disalurkan kepada kelompok tani untuk dikembangkan dan diperbanyak secara mandiri.
Pengembangan dalam skala lebih luas juga dilakukan melalui Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kampar dengan memanfaatkan lahan sekitar 25 hingga 28 hektare.
Budi mengimbau para petani yang mengembangkan varietas lokal tersebut agar menyisihkan sekitar 25 hingga 30 kilogram gabah dari setiap hektare hasil panen untuk dijadikan benih mandiri pada musim tanam berikutnya.
Ke depan, Dinas Pertanian Kampar optimistis pengembangan varietas padi lokal tidak hanya menjadi bagian dari upaya konservasi dan pelestarian benih khas daerah, tetapi juga dapat menjadi produk unggulan yang memiliki nilai ekonomi.
Bahkan, varietas tersebut diharapkan mampu membangun branding beras khas Kampar sehingga memiliki daya saing dan nilai jual lebih tinggi yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan petani.(Ilh)