Lindungi Santri dari Kabut Asap, Gus Muhaimin Resmikan Rumah Bebas Asap di Pekanbaru
Redaksi - Pekanbaru
Minggu, 18 Okt 2026 17:17 WIB
PEKANBARU (SN) — Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdul Muhaimin Iskandar atau Gus Muhaimin, meresmikan Rumah Bebas Asap di Pondok Pesantren Dar El Hikmah, Pekanbaru, Riau, Minggu (18/10/2026). Fasilitas ini dihadirkan sebagai bentuk kepedulian terhadap santri dan masyarakat yang terdampak bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Bantuan tersebut disalurkan melalui anggota DPR RI Fraksi PKB dari daerah pemilihan Riau, Mafirion. Kehadiran Rumah Bebas Asap diharapkan dapat menjadi tempat perlindungan bagi santri dan warga dari paparan kabut asap yang berpotensi mengganggu kesehatan.
Pondok Pesantren Dar El Hikmah sendiri dijadwalkan menjadi lokasi apel peringatan Hari Santri Nasional (HSN) pada 22 Oktober 2026, yang akan dihadiri Gus Muhaimin.
Mafirion menegaskan, peringatan Hari Santri Nasional bukan hanya momentum untuk merayakan perjuangan dan kontribusi santri bagi bangsa, tetapi juga harus menjadi ajang memperkuat kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat, termasuk dampak karhutla.
“HSN memang pesta santri, tetapi kepedulian terhadap bencana karhutla tidak boleh pudar. Santri dan masyarakat yang terdampak asap membutuhkan tindakan nyata. Karena itu, Rumah Bebas Asap ini menjadi simbol kehadiran PKB untuk membantu masyarakat menghadapi dampak bencana,” ujar Mafirion di Pekanbaru, Minggu (18/10/2026).
Menurutnya, pesantren merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat yang perlu mendapat perhatian, terutama ketika menghadapi situasi darurat. Kabut asap akibat karhutla tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga berisiko terhadap kesehatan, khususnya anak-anak dan kelompok rentan.
Sebagai bentuk dukungan terhadap perlindungan masyarakat, Gus Muhaimin juga memberikan bantuan masker kepada para santri dan warga yang terdampak asap karhutla. Bantuan ini diharapkan dapat membantu mengurangi paparan asap, seiring dengan upaya penanganan karhutla yang terus dilakukan.
Mafirion menekankan, kepedulian terhadap korban karhutla tidak boleh berhenti pada pemberian bantuan simbolis. Menurutnya, masyarakat yang terdampak membutuhkan perhatian dan tindakan nyata agar tetap dapat menjalankan aktivitas dengan lebih aman di tengah kondisi udara yang memburuk.
“Jangan sampai peringatan Hari Santri berlangsung meriah, sementara santri dan masyarakat di sekitar kita harus berjuang menghadapi asap. Semangat Hari Santri harus diwujudkan dalam kepedulian, gotong royong, dan aksi nyata membantu sesama,” katanya.
Untuk mengantisipasi dampak paparan asap selama kegiatan berlangsung, seluruh peserta apel HSN 2026 di Pondok Pesantren Dar El Hikmah juga diminta menggunakan masker. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan dan keselamatan peserta di tengah ancaman kabut asap akibat karhutla.
Mafirion berharap, peringatan Hari Santri Nasional 2026 tidak hanya menjadi momentum memperkuat semangat kebangsaan dan keagamaan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa pesantren dan masyarakat tidak boleh dibiarkan menghadapi bencana sendirian.
“Bagi PKB, Hari Santri bukan sekadar perayaan. Ini juga momentum untuk membuktikan bahwa nilai-nilai kepedulian dan gotong royong harus hadir dalam tindakan. Ketika masyarakat terdampak bencana, kita harus hadir dan membantu,” pungkasnya.***